Aku terbangun. Kulihat jam dinding telah menunjukkan pukul sembilan tepat. Agak telat. Aku bangkit dari tempat tidur. Leher, tengkuk, dan bahuku terasa sakit.
“Akh,” erangku.
Aku memijat bagian yang sakit berharap sakitnya bisa sedikit berkurang. Aku duduk terdiam di tepi tempat tidur sambil sedikit memijat tengkuk. Apa yang aku lakukan ini benar? Apa aku harus memikirkan nasib orang yang tak bersalah yang mungkin akan menjadi korban? Apa mereka memang pantas mendapatkannya? Keraguan terus berkecamuk di kepalaku menjelang hari H.
“Baru bangun bang?” Karim menyapaku.
“Iya nih, telat bangunnya,” jawabku.
Entah kenapa tak ada keraguan sedikit pun di mukanya. Padahal 2 hari lagi dia bakal sudah meninggalkan dunia ini jika rencana kami berhasil. Aku menuju kamar mandi yang terletak di belakang rumah. Aku mencuci muka sekalian menyikat gigi. Kulirik sebentar ke dapur untuk melihat masih ada sarapan untukku atau tidak. Ternyata ada. Aku duduk. Sarapan sendiri dalam diam.
Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku adalah orang yang baik. Tapi aku juga tidak rela jika aku disebut orang yang jahat. Rencanaku ini juga tidak mutlak salah. Aku hanya memberi peringatan dan pesan kepada penguasa yang menjalankan pemerintahan secara semena-mena. Karena sebagai rakyat biasa, aku tidak bisa melakukan apa-apa terhadap pemerintah. Aku ingin menyampaikan kepada dunia pesanku. Pesan dari rakyat yang telah ditindas.
Di hari kemerdekaan nanti,aku akan melakukan aksi bom bunuh diri. Bersama dengan Karim, kembaranku. Kami telah menguatkan hati untuk melakukan hal ini. Akulah yang menyiapkan dan memberi ide untuk aksi gila ini tapi kenapa sepertinya malah aku yang kurang siap dengan aksi ini. Keraguan terus berusaha untuk merobohkan niat dan keberanianku. Ah, entahlah.
“Bang, setelah sarapan kita diskusiin lagi ya rencananya. Kayaknya masih banyak yang harus di pertimbangkan,” kata-kata Karim membuyarkanku dari lamunanku.
“ho oh,” jawabku dengan mulut penuh dengan makanan.
***
Sore harinya kami pergi ke tempat yang akan kami jadikan sasaran. Meninjau kembali untuk terakhir kalinya. Karena besok, kami harus mengambil barang-barang yang dibutuhkan untuk merakit bom. Hari setelah lusa adalah hari H. Rencananya akan dilakukan di alun-alun kota. Di hari dimana negara ini merdeka. Akan ada acara memperingati kemerdekaan pada hari itu dan akan banyak orang yang menerima pesan kami.
Setelah meninjau lokasi, aku sudah cukup yakin. Begitu juga Karim, dia menyetujui pendapatku bahwa semua akan berjalan sesuai rencana. Menjelang maghrib kami pulang ke rumah untuk beristirahat. Karena pekerjaan besok juga tidak sedikit.
***
Aku sendiri yang pergi ke tempat teman lama yang telah menjanjikan akan menyediakan peralatan dan bahan untuk membuat bom tersebut. Kami pernah bekerja sama di luar negeri sebagai ahli bom oleh sebuah kelompok separatis disana. Karena itu jika peralatan dan bahan telah ada bukanlah hal yang sulit bagiku untuk merakitnya.
Karim, yang tidak begitu mengerti tentang urusan bom hanya melihat-lihat dan bertanya sedikit tentang jenis dan cara kerja bom ini. Dia hanya mengangguk setelah kuberi penjelasan. Aku bekerja sampai siang menjelang sore. Satu bom telah selesai. Satu lagi akan aku selesaikan setelah maghrib. Agar besok aku bisa beristirahat dan memantapkan diri.
Mungkin Karim merasa sedikit aneh dengan tingkahku akhir-akhir ini. Aku juga merasa begitu. Sepertinya semakin dekat dengan hari H, aku semakin pendiam. Semakin sering berdebat dengan diriku sendiri. Aku harap dia mengerti bagaimana perasaanku. Mengikut sertakan saudara kembarku untuk aksi gila ini bukanlah merupakan beban yang ringan bagiku, walaupun sudah berulang kali dia menyatakan mau dan ikut dengan keinginan sendiri tetap saja itu berat bagiku.
Pada awalnya, aku hanya berniat melakukan hal ini sendiri. Tapi entah dari mana dia mengetahui rencanaku. Dia langsung menghubungiku dan menyatakan dia harus ikut. Aku tidak tahu harus berkata apa-apa melihat keyakinan di wajah dan suaranya.
Bom yang kedua aku selesaikan menjelang tengah malam. Karim permisi untuk tidur duluan tadi. Aku bangkit dan meregangkan badan. Teh kental, panas dan manis pasti enak malam-malam begini. Aku bangkit menuju dapur dan memanaskan air di ketel. Tak berapa lama air mendidih dan aku menuangkannya ke gelas yang telah kuisi teh dan gula. Aku duduk dan melamun di keheningan malam. Aku meyeruput habis isi gelasku. Lalu tidur.
***
Besoknya aku terbangun begitu pagi. Padahal aku tidur cukup larut. Karim belum bangun. Aku membeli sarapan untuk kami. Aku akan pergi untuk berolahraga dan mengajak Karim. Aku pulang dan membangunkan Karim. Sepertinya dia terlalu mengantuk sehingga menolak ajakanku. Tak apa, mungkin sendiri lebih baik. Aku ganti baju dan siap pergi. Sepertinya bagus melepas pikiran dari rencana besok sejenak dan bertindak seperti besok adalah hari biasa seperti orang pada umumnya.
Matahari telah cukup tinggi. Aku pulang. Karim telah bangun dan menghabiskan sarapannya. Aku pun pergi ke dapur dan melahap sarapanku. Sepertinya Karim seperti sedikit terkejut melihat aku yang begitu ceria.
“Harinya cerah ya bang,” katanya.
“Iya,” aku mengembangkan senyum cukup lebar.
“Gak ada rencana apa-apa hari ini Rim?” kataku lagi.
“Kayaknya enggak bang. Lah abang?”
“Enggak juga,” aku tersenyum lagi. Sepertinya Karim sedikit lebih ceria melihat aku ceria. Baguslah.
***
Besoknya aku terbangun.” Inilah saatnya,” pikirku. Aku bangun dan membelikan sarapan. Jika ketika aku pulang Karim belum bangun aku akan membangukannya karena kami harus berangkat cukup pagi agar menghindari kemacetan. Aku pulang. Karim telah bangun. Dia bahkan sudah mandi dan sudah bersiap-siap.
“Ini sarapan dulu Rim. Aku mandi dulu ya,” kataku.
“Iya bang. Eh bang!” dia memanggilku. Aku melihat kearahnya.
“Ini saatnya bang,” dia berkata dengan muka serius. Aku hanya menganguk pelan.
Kami memakai topi dan tas ransel. Bom kami letakkan di ransel. Kami sengaja datang dari arah berlawanan. Aku datang dari gerbang barat dan Karim dari gerbang timur. Kami tidak dari pintu Utara atau Selatan karena terlalu ramai dan padat. Rencana bom akan kami ledakkan di tengah alun-alun dimana keramaian berkumpul. Kami sudah tahu dimana pos masing-masing sehingga ledakanku tidak akan mencapai Karim dan begitu juga sebaliknya.
Kami sampai di alun-alun tepat pukul sembilan kurang lima menit. Rencananya, ketika pidato dimulai, Karim akan meledakkan bomnya. Lalu aku menyusul meledakkan bom milikku. Tak lama kemudian pidato dimulai.
“Inilah saatnya,” aku bergumam kepada diriku sendiri. Aku menunggu ledakan dari Karim.
Pidato telah mulai dari tadi tapi tak ada ledakan apapun. Ada apa ini? Apa bomnya tidak berfungsi? Tidak mungkin! Aku yakin seratus persen hal itu tak akan terjadi. Karena setelah mandi tadi aku menyempatkan sebentar untuk memeriksa kedua bom ini. Apakah dia tertangkap? Itu perkara lain. Aku bingung. Panik. Aku melihat sekeliling. Mencoba mengetahui bagaimana keadaan Karim. Dia tidak ada di posisi! Apa yang terjadi? Apakah rencana kami terbongkar? Aku semakin waspada. Sepertinya ada hal yang tidak beres.
Ternyata keadaan memang tidak beres. Aku melihat polisi semakin panik dan sibuk dengan radio komunikasinya. Aku melihat lebih seksama. Ternyata beberapa polisi ada yang mendekat ke arah ku. Aku panik dan mencoba bergerak menjauh. Dimana kau Karim? Kita telah berjanji akan menyelesaikannya dengan baik dan meninggalkan dunia ini bersama! Kenapa kau tidak menepati janjimu! Aku marah kepada Karim dan diriku sendiri. Tapi tiba-tiba..
BUM!
Bom meledak di daerah yang tidak termasuk dalam rencana. Kenapa Karim bisa berada disana? Aku tidak tahu alasannya tapi yang pasti saat itu aku tahu inilah saatnya aku beraksi. Aku melihat detonator bom milikku dan menekan tombolnya. Klik!
BUM!
***
Sedetik sebelum meledak tadi aku merasa seperti seluruh kehidupanku diputar kembali di dalam kepalaku. Saat yang indah. Saat sedih. Semua datang secara acak dan serempak memenuhi kepalaku. Detik itu juga sepertinya aku menangis. Menangis sambil tersenyum. Entah aku setan atau malaikat. Saat itu aku tidak berusaha memikirkannya. Aku hanya berharap dunia mendengar pesanku. Pesan yang aku dan saudara kembarku sampaikan.
Pesan kepada dunia.