Niagara

Pada suatu masa, adalah sebuah perkampungan naga bernama Nagari. Naga tidak bisa hidup di belahan dunia manapun kecuali di sini. Naga digunakan sebagai alat transportasi, sumber energi, alat perang, binatang peliaharaaan, dan lain-lain.

Naga ada bermacam-macam jenis. Naga api, naga air, naga angin, naga es, dan lain-lain. Namun ada juga naga yang tidak memiliki kemampuan elemental seperti yang lain. Naga seperti itu biasanya memiliki kelebihan dalam bertarung ataupun memiliki keunggulan dalam kecepatan terbang. Tapi ada naga yang tidak berguna dalam hal apapun, sehingga hanya dijadikan hewan peliharaan.

Nagari merupakan tempat yang aman. Tidak ada yang berani menyerang tempat ini karena kehebatan penduduknya mengendalikan naga. Beratus-ratus tahun kedamaian telah berkembang bersama dengan penduduk Nagari sejak perang yang terakhir. Perang yang terjadi dahulu kala adalah perang saudara sesama pengendali naga. Perang antara penduduk Nagari dengan Nagara, desa tetangga. Nagara juga merupakan desa pengendali naga. Perang berkecamuk akibat perebutan kekuasaan. Penduduk Nagara kalah dalam perang dan hampir tidak ada penduduk yang selamat ketika itu.

Hampir tidak ada yang selamat. Ya, kalimat itu tepat menggambarkan keadaan yang terjadi. Karena memang masih ada penduduk Nagara yang selamat dari peperangan dahulu kala. Sejumlah kecil penduduk yang selamat mengungsi ke hutan dan tidak berani mendekat ke Nagari.

***

“oooeeekk..oooeeekk..!!!”

Terdengar suara tangisan bayi dari tempat persembunyian penduduk Nagara. Telah lahir seorang anak. Anak tersebut diberi nama Ni. Nama yang sama dengan nama raja yang telah tewas akibat perang. Kedua orang tua mereka berniat untuk membesarkan Ni di Nagari karena mereka menginginkan kehidupan yang layak bagi Ni. Maka mereka diam-diam masuk ke Nagari dan menyamar menjadi penduduk Nagari.

Waktu terus berjalan dan Ni semakin berkembang. Ni tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sedikit ambisius. Apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan. Karena kecerdasan dan ambisinya yang telah terlihat walaupun dia masih anak-anak, dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.

Ni pergi bermain ke hutan suatu hari bersama teman-temannya. Dia tersesat. Teman-temannya pulang dan melapor ke pada penduduk desa. Ketika tersesat itu dia menemukan sebuah telur naga. Telur naga yang aneh. Dia mengambil telur tersebut dan merawat telur tersebut hingga dia akhirnya ditemukan penduduk desa.

Orang tua Ni sangat terkejut dengan telur naga yang di temukan oleh Ni. Mereka tidak pernah melihat telur naga seperti itu. Untuk mencari kepastian, Orang tua Ni pergi ke tempat persembunyian penduduk Nagara dan menanyakan tentang telur naga tersebut kepada para tetua desa. Para tetua yang telah hidup sejak ditambah dengan pengalaman ketika perang, mengetahui semua hal tentang naga. Mereka yakin itu adalah telur naga legenda yang konon telah musnah. Para tetua bingung bagaimana bisa telur tersebut masih ada sekaligus khawatir jika penduduk Nagari mengetahui ada yang memiliki naga legenda tersebut. Mereka takut akan terjadi perang lagi dan keluarga Ni akan diburu. Karena situasi tidak memungkinkan untuk tetap di Nagari, akhirnya Ni dan kedua orang tuanya kembali ke tempat persembunyian untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Ni-lah yang menemukan telur naga tersebut, maka Ni pula yang berhak terhadap naga tersebut. Naga yang di temukannya itu adalah naga air legenda yang sangat kuat dan dikatakan mampu menghancurkan sebuah negara. Ni merawat dan melatih Nagara—dia memberi nama naga tersebut seperti nama desa mereka dahulu—dengan baik. Dengan kecerdasan yang dimilikinya dia telah tumbuh menjadi pengendali naga yang hebat.

***

Walaupun di ketinggian, api dan asap sangat jelas terlihat. Dia melihat dirinya sedang menunggang Nagara. Pemandangan itu membuatnya bingung. Apa yang terjadi? Dia terus memperhatikan dan dia melihat dirinya sendiri sedang dikejar-kejar oleh pasukan Nagari. Dia dikejar-kejar karena dialah yang melakukan perusakan dan penghancuran di Nagari.

Ni tersentak terbangun dari tidurnya. Dia merasakan peluh membasahi bajunya. Ternyata dia bermimpi. Entah apa gerangan yang membuat dia sampai bermimpi mengerikan seperti itu. Dia bangkit dan mandi untuk menenangkan pikiran.

***

Suatu ketika Ni dan Nagara pergi untuk latihan. Mereka selalu latihan di tempat yang jauh. Agar keberadaaan mereka tetap aman. Mereka latihan dengan nyaman seperti biasa. Ketika mereka pulang, Ni benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tempat persembunyian mereka hancur dan seluruh penduduk Nagara tewas, termasuk kedua orang tua nya.

Ni benar-benar murka. Tapi dia tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Seketika itu juga dia ingat akan mimpinya. Sekarang dia tahu ternyata itu bukan mimpi biasa. Dia tahu kemana kemurkaanya harus dilampiaskan. Nagari. Pasti mereka yang melakukannya. Itulah yang ada di benak Ni yang diliputi amarah. Dan semakin yakinlah dia ketika melihat sejumlah mayat prajurit Nagari. Dasar keji! Penduduk Nagara yang bersembunyi dan hidup dalam damai dimusnahkan tanpa belas kasihan. Pemikiran seperti itu membuat Ni semakin murka kepada Nagari.

Setelah mempersiapkan segala persiapan untuk balas dendam, dia berangkat ke Nagari. Sesampai di sana, dia telah di sambut oleh sepasukan naga perang. “Kalian akan menerima akibat dari perbuatan keji kalian!” Teriak Ni dan memulai perang. Ni dan Nagari bukanlah tandingan naga perang biasa. Dia membantai sepasukan naga dengan sangat mudah.

Amarah benar-benar telah membuat Ni kehilangan akal sehat. Dia mulai membantai dan menyerang penduduk desa yang tidak bersalah. “Jika penduduk desa Nagara musnah maka kalian juga harus musnah!” dia mengamuk dibutakan amarah. Pemandangan yang dilihatnya persis dengan apa yang dilihatnya dalam mimpi. Tapi dia tidak begitu mempermasalahkan hal itu. Saat ini hanya balas dendam yang ada di benaknya.

Dia pergi menuju pusat pemerintahan. Dia berniat memusnahkan seluruh Nagari. Di sana pasukan yang di hadapi Ni bakal jauh lebih kuat.

Tepat seperti dugaan, dia dihadang pasukan khusus. Nagara adalah naga legenda. Pasukan khusus belum cukup untuk menghadang Ni dan Nagara. Ni dan Nagara menang walau mendapati luka yang cukup serius. Mereka melanjutkan perjalanan untuk mencapai raja. Setelah membunuh raja baru dendam terbalas. Raja biasanya dilindungi oleh pasukan khusus yang lebih kuat.

Ni tidak tahu apakah dia mampu mengahadapi pasukan terakhir ini. Pasukan ini adalah pasukan elit yang hanya digunakan ketika saat kritis seperti saat ini. Pasukan ini juga lebih kuat dari pasukan sebelumnya. Sedangkan Nagara mendapat luka akibat pertempuran sebelumnya. Ni mengelus kepala Nagara dan memandang matanya lekat-lekat, berusaha mencari jawaban darinya. Jawaban didapat. Dia melihat keyakinan di mata Nagara. Bukan hanya itu, dia merasakan kekuatan yang hebat memancar dari Nagara. Kekuatan yang tidak pernah dilihat olehnya sebelumnya. Inikah kekuatan sang naga legendaris?

“Demi penduduk Nagara!” dia berteriak lantang. Ni maju dan bertarung melawan pasukan elit tersebut. Setelah pertarungan sengit, Ni sadar dia bakal kalah. Apa ini adalah akhir?. Tiba-tiba dia mendengar Nagara berbicara.

“Akhir seperti apa yang kau harapkan?” Ni mendengar Nagara bertanya ke dalam pikirannya.

“Nagara? Kaukah itu?” Ni balas bertanya di dalam pikirannya.

“Ya akulah Nagara. Naga yang telah kau latih dan kau rawat. Aku dapat membuatmu memenangkan pertarungan ini. Maka katakanlah. Apa kau ingin memenangkan pertarungan ini?”

“Ya. Tapi sepertinya kita tidak akan bisa memengkan pertarungan ini.”

“Memang kita tidak akan memenangkan pertarungan ini. Tapi kaulah yang akan memenangkannya. Dengan kekuatan yang kumiliki, aku akan memporak-porandakan seluruh desa. Tapi aku tidak akan bisa bertahan hidup setelah itu. Jika kau memang menginginkan kemenangan dan balas dendam, baiklah.” Tanpa aba-aba, Nagara langsung meluncur ke atas. Hampir saja Ni terjatuh akibat tidak siap. Seketika itu, tubuh Nagara berkilau. Ni benar-benar tidak mengerti. Dia memanggil Nagara dalam pikirannya.

“Nagara! Apa yang akan kau lakukan?” Ni berteriak dalam pikirannya.

“Terima kasih dan selamat tinggal” Itulah yang didengar Ni di dalam pikirannya.

Lalu kilau di tubuh Nagara lenyap dan dia melihat sebuah gelombang air raksasa datang menghancurkan Nagari di bawahnya. Dia sangat takjub melihat itu. Seluruh Nagari tersapu gelombang tersebut. Tidak ada satupun yang selamat diterpa gelombang sedahsyat itu. Itulah akhir dari Nagari.

Nagara yang sekarat mulai terbang lemah ke daratan agar Ni dapat turun dengan selamat. Setelah menurunkan Ni di dataran yang aman, Nagara pergi terbang meninggalkan Ni tanpa mengatakan apapun. Ni hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa. Dia hanya melihat kepergian Nagara dengan diam.Ditemani gemuruh gelombang raksasa yang telah memusnahkan desa Nagari. Kekuatan besar tersebut membentuk aliran sungai baru. Bahkan, terbentuk sebuah air terjun yang besar dan dahsyat ikut terbentuk.Setelah kepergian Nagara, Ni pergi melanjutkan hidup. Tidak diketahui bagaimana kematian Nagara dan kisah hidup Ni selanjutnya.

***

Sekarang, sungai dan air terjun tersebut diberi nama Niagara. Air terjun yang mengingatkan kita terhadap Ni, dan naganya, Nagara.

Pesan kepada Dunia

Aku terbangun. Kulihat jam dinding telah menunjukkan pukul sembilan tepat. Agak telat. Aku bangkit dari tempat tidur. Leher, tengkuk, dan bahuku terasa sakit.

“Akh,” erangku.

Aku memijat bagian yang sakit berharap sakitnya bisa sedikit berkurang. Aku duduk terdiam di tepi tempat tidur sambil sedikit memijat tengkuk. Apa yang aku lakukan ini benar? Apa aku harus memikirkan nasib orang yang tak bersalah yang mungkin akan menjadi korban? Apa mereka memang pantas mendapatkannya? Keraguan terus berkecamuk di kepalaku menjelang hari H.

“Baru bangun bang?” Karim menyapaku.

“Iya nih, telat bangunnya,” jawabku.

Entah kenapa tak ada keraguan sedikit pun di mukanya. Padahal 2 hari lagi dia bakal sudah meninggalkan dunia ini jika rencana kami berhasil. Aku menuju kamar mandi yang terletak di belakang rumah. Aku mencuci muka sekalian menyikat gigi. Kulirik sebentar ke dapur untuk melihat masih ada sarapan untukku atau tidak. Ternyata ada. Aku duduk. Sarapan sendiri dalam diam.

Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku adalah orang yang baik. Tapi aku juga tidak rela jika aku disebut orang yang jahat. Rencanaku ini juga tidak mutlak salah. Aku hanya memberi peringatan dan pesan kepada penguasa yang menjalankan pemerintahan secara semena-mena. Karena sebagai rakyat biasa, aku tidak bisa melakukan apa-apa terhadap pemerintah. Aku ingin menyampaikan kepada dunia pesanku. Pesan dari rakyat yang telah ditindas.

Di hari kemerdekaan nanti,aku akan melakukan aksi bom bunuh diri. Bersama dengan Karim, kembaranku. Kami telah menguatkan hati untuk melakukan hal ini. Akulah yang menyiapkan dan memberi ide untuk aksi gila ini tapi kenapa sepertinya malah aku yang kurang siap dengan aksi ini. Keraguan terus berusaha untuk merobohkan niat dan keberanianku. Ah, entahlah.

“Bang, setelah sarapan kita diskusiin lagi ya rencananya. Kayaknya masih banyak yang harus di pertimbangkan,” kata-kata Karim membuyarkanku dari lamunanku.

“ho oh,” jawabku dengan mulut penuh dengan makanan.

***

Sore harinya kami pergi ke tempat yang akan kami jadikan sasaran. Meninjau kembali untuk terakhir kalinya. Karena besok, kami harus mengambil barang-barang yang dibutuhkan untuk merakit bom. Hari setelah lusa adalah hari H. Rencananya akan dilakukan di alun-alun kota. Di hari dimana negara ini merdeka. Akan ada acara memperingati kemerdekaan pada hari itu dan akan banyak orang yang menerima pesan kami.

Setelah meninjau lokasi, aku sudah cukup yakin. Begitu juga Karim, dia menyetujui pendapatku bahwa semua akan berjalan sesuai rencana. Menjelang maghrib kami pulang ke rumah untuk beristirahat. Karena pekerjaan besok juga tidak sedikit.

***

Aku sendiri yang pergi ke tempat teman lama yang telah menjanjikan akan menyediakan peralatan dan bahan untuk membuat bom tersebut. Kami pernah bekerja sama di luar negeri sebagai ahli bom oleh sebuah kelompok separatis disana. Karena itu jika peralatan dan bahan telah ada bukanlah hal yang sulit bagiku untuk merakitnya.

Karim, yang tidak begitu mengerti tentang urusan bom hanya melihat-lihat dan bertanya sedikit tentang jenis dan cara kerja bom ini. Dia hanya mengangguk setelah kuberi penjelasan. Aku bekerja sampai siang menjelang sore. Satu bom telah selesai. Satu lagi akan aku selesaikan setelah maghrib. Agar besok aku bisa beristirahat dan memantapkan diri.

Mungkin Karim merasa sedikit aneh dengan tingkahku akhir-akhir ini. Aku juga merasa begitu. Sepertinya semakin dekat dengan hari H, aku semakin pendiam. Semakin sering berdebat dengan diriku sendiri. Aku harap dia mengerti bagaimana perasaanku. Mengikut sertakan saudara kembarku untuk aksi gila ini bukanlah merupakan beban yang ringan bagiku, walaupun sudah berulang kali dia menyatakan mau dan ikut dengan keinginan sendiri tetap saja itu berat bagiku.

Pada awalnya, aku hanya berniat melakukan hal ini sendiri. Tapi entah dari mana dia mengetahui rencanaku. Dia langsung menghubungiku dan menyatakan dia harus ikut. Aku tidak tahu harus berkata apa-apa melihat keyakinan di wajah dan suaranya.

Bom yang kedua aku selesaikan menjelang tengah malam. Karim permisi untuk tidur duluan tadi. Aku bangkit dan meregangkan badan. Teh kental, panas dan manis pasti enak malam-malam begini. Aku bangkit menuju dapur dan memanaskan air di ketel. Tak berapa lama air mendidih dan aku menuangkannya ke gelas yang telah kuisi teh dan gula. Aku duduk dan melamun di keheningan malam. Aku meyeruput habis isi gelasku. Lalu tidur.

***

Besoknya aku terbangun begitu pagi. Padahal aku tidur cukup larut. Karim belum bangun. Aku membeli sarapan untuk kami. Aku akan pergi untuk berolahraga dan mengajak Karim. Aku pulang dan membangunkan Karim. Sepertinya dia terlalu mengantuk sehingga menolak ajakanku. Tak apa, mungkin sendiri lebih baik. Aku ganti baju dan siap pergi. Sepertinya bagus melepas pikiran dari rencana besok sejenak dan bertindak seperti besok adalah hari biasa seperti orang pada umumnya.

Matahari telah cukup tinggi. Aku pulang. Karim telah bangun dan menghabiskan sarapannya. Aku pun pergi ke dapur dan melahap sarapanku. Sepertinya Karim seperti sedikit terkejut melihat aku yang begitu ceria.

“Harinya cerah ya bang,” katanya.

“Iya,” aku mengembangkan senyum cukup lebar.

“Gak ada rencana apa-apa hari ini Rim?” kataku lagi.

“Kayaknya enggak bang. Lah abang?”

“Enggak juga,” aku tersenyum lagi. Sepertinya Karim sedikit lebih ceria melihat aku ceria. Baguslah.

***

Besoknya aku terbangun.” Inilah saatnya,” pikirku. Aku bangun dan membelikan sarapan. Jika ketika aku pulang Karim belum bangun aku akan membangukannya karena kami harus berangkat cukup pagi agar menghindari kemacetan. Aku pulang. Karim telah bangun. Dia bahkan sudah mandi dan sudah bersiap-siap.

“Ini sarapan dulu Rim. Aku mandi dulu ya,” kataku.

“Iya bang. Eh bang!” dia memanggilku. Aku melihat kearahnya.

“Ini saatnya bang,” dia berkata dengan muka serius. Aku hanya menganguk pelan.

Kami memakai topi dan tas ransel. Bom kami letakkan di ransel. Kami sengaja datang dari arah berlawanan. Aku datang dari gerbang barat dan Karim dari gerbang timur. Kami tidak dari pintu Utara atau Selatan karena terlalu ramai dan padat. Rencana bom akan kami ledakkan di tengah alun-alun dimana keramaian berkumpul. Kami sudah tahu dimana pos masing-masing sehingga ledakanku tidak akan mencapai Karim dan begitu juga sebaliknya.

Kami sampai di alun-alun tepat pukul sembilan kurang lima menit. Rencananya, ketika pidato dimulai, Karim akan meledakkan bomnya. Lalu aku menyusul meledakkan bom milikku. Tak lama kemudian pidato dimulai.

“Inilah saatnya,” aku bergumam kepada diriku sendiri. Aku menunggu ledakan dari Karim.

Pidato telah mulai dari tadi tapi tak ada ledakan apapun. Ada apa ini? Apa bomnya tidak berfungsi? Tidak mungkin! Aku yakin seratus persen hal itu tak akan terjadi. Karena setelah mandi tadi aku menyempatkan sebentar untuk memeriksa kedua bom ini. Apakah dia tertangkap? Itu perkara lain. Aku bingung. Panik. Aku melihat sekeliling. Mencoba mengetahui bagaimana keadaan Karim. Dia tidak ada di posisi! Apa yang terjadi? Apakah rencana kami terbongkar? Aku semakin waspada. Sepertinya ada hal yang tidak beres.

Ternyata keadaan memang tidak beres. Aku melihat polisi semakin panik dan sibuk dengan radio komunikasinya. Aku melihat lebih seksama. Ternyata beberapa polisi ada yang mendekat ke arah ku. Aku panik dan mencoba bergerak menjauh. Dimana kau Karim? Kita telah berjanji akan menyelesaikannya dengan baik dan meninggalkan dunia ini bersama! Kenapa kau tidak menepati janjimu! Aku marah kepada Karim dan diriku sendiri. Tapi tiba-tiba..

BUM!

Bom meledak di daerah yang tidak termasuk dalam rencana. Kenapa Karim bisa berada disana? Aku tidak tahu alasannya tapi yang pasti saat itu aku tahu inilah saatnya aku beraksi. Aku melihat detonator bom milikku dan menekan tombolnya. Klik!

BUM!

***

Sedetik sebelum meledak tadi aku merasa seperti seluruh kehidupanku diputar kembali di dalam kepalaku. Saat yang indah. Saat sedih. Semua datang secara acak dan serempak memenuhi kepalaku. Detik itu juga sepertinya aku menangis. Menangis sambil tersenyum. Entah aku setan atau malaikat. Saat itu aku tidak berusaha memikirkannya. Aku hanya berharap dunia mendengar pesanku. Pesan yang aku dan saudara kembarku sampaikan.

Pesan kepada dunia.

Dia Anjing yang Hebat

“Dia anjing yang hebat,” aku bergumam pada diriku sendiri ketika melihat batu nisan itu.

Kata- kata itu terucap begitu saja. Padahal jika aku mengingat beberapa minggu yang lalu ketika anjing tersebut baru ditemukan akan sangat mustahil aku mengucapkan hal itu. Semenjak insiden di hutan, persepsi burukku tentang Bleki telah jauh berubah.

Ayahku menamai anjing itu Bleki. Nama itu diambil dari warna bulu anjing itu yang memang berwarna hitam. Bleki di temukan Ayah ketika dia sedang berada di hutan mencari tanaman untuk obat. Dia dalam keadaan yang tidak sehat. Karena kasihan, Ayah membawanya kerumah dan mengobati lukanya. Ayah bukanlah penyayang binatang, tapi dia merasa membutuhkan anjing untuk menjaga rumah jika ada hewan liar yang datang.

Aku merasa dia bukanlah anjing yang tepat untuk menjaga ladang. Karena dia anjing yang penakut. Mengigat dia juga sangat pemalas, aku semakin tidak suka pada anjing itu.

Rasa jengkelku kepada anjing tersebut semakin besar ketika Ayah menetapkan bahwa akulah yang harus memberi makan dan memandikan anjing itu. Aku menolak melakukannya tapi Ayah tetap memaksa. Dengan sangat terpaksa aku menerima tugas itu. Kenapa aku harus mengurusi anjing bodoh ini? Bukankah seharusnya dia dibiarkan saja mati ketika itu?. Aku hanya mampu menggerutu.

Ketika hari ulang tahunku sudah dekat, aku bahkan meminta Ayah untuk mencarikanku anjing yang baru dan membuang Bleki. Aku benar-benar tidak suka kepadanya. Tapi Ayah menolak mengabulkan permintaanku. Dia lebih memilih membelikanku buku yang aku yakin hargaya tidak murah ketimbang menuruti kemauanku. Itu hanya membuat rasa benciku kepada Bleki semakin membuncah.

Namun, kebencianku luluh. Seperti benteng yang di bombardir puluhan batalion tentara, benteng kebencianku terhadap anjing itu langsung roboh. Hal tersebut terjadi akibat insiden yang terjadi ketika aku bersama teman-teman pergi ke hutan mencari kayu bakar.

Aku pergi bersama 2 orang teman sebayaku. Baron dan Sinar. Mereka merupakan tetanggaku. Entah apa penyebabnya tapi kami menjumpai seekor serigala yang kelihatannya belum terlalu tua tapi cukup kelaparan sehingga mampu melahap kami mejadi santapan siangnya. Jantungku berdegup begitu cepat ketika melihat serigala itu mengendap-mengendap mengawasi kami. Aku yakin usaha apapun yang kami gunakan untuk berlari kembali ke rumah kami bakal membuat dia semakin senang dan semakin semagat mengejar kami.

Karena bingung dan takut aku melihat wajah dua temanku yang lain. Wajah mereka pucat. Air mata bercucuran deras. Tapi tak satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Hanya napas mereka yang memburu terdegar jelas di telingaku.

Tanpa aba-aba aku langsung menarik kedua tangan temanku. Ternyata sentakan dari tanganku ketika menarik mereka sedikit menyadarkan mereka dari ketakutan.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Baron, suaranya serak dan bergetar.

“Lari,” Aku menjawab sekenanya.

“Kemana?” kali ini Sinar yang bertanya.

Ketika itu aku melihat pohon yang cukup tinggi dan kelihatannya cukup mudah untuk di panjat. Seketika itu juga aku menunjuk ke pohon itu dan memberi isyarat kepada teman-temanku kita harus memanjat pohon itu.

Sesampai di pohon itu aku menyuruh Baron untuk naik duluan. Kelihatannya dia begitu ketakutan. Aku tidak tahu bagaimana ketakutan yang dialaminya tapi dia memanjat dengan cepat. Cepat sekali.

Lalu aku menyuruh Sinar untuk naik setelah Baron, sementara aku mengambil kayu yang cukup besar untuk memukul serigala tersebut jika dia tiba-tiba muncul dan menyerang.

Setelah kami semua memanjat cukup tinggi, aku mulai merasa sedikit tenang. Aku yakin serigala tersebut tidak bisa memanjat untuk mengejar kami. Aku melihat-melihat sekeliling untuk memastikan posisi serigala itu.

“Aman,” pikirku.

Belum sempat memikirkan rencana selanjutnya, aku mendengat suara geraman dari bawah. Ternyata serigala tersebut telah berada di bawah pohon dan berusaha untuk memanjat pohon. Aku menggenggam kayu tadi semakin erat. Bersiap-siap untuk memukul jika serigala tersebut mampu mencapai kami.

“Tolong..!!” tiba-tiba Baron berteriak minta tolong. Aku meragukan usaha tersebut berhasil untuk mendapatkan pertologan. Karena kami sedang di hutan. Siapa yang bakal mendengar. Walau aku tahu bakal kecil kemungkinan suara kami di dengar orang lain aku ikut berteriak minta tolong.

Sinar bergerak dan berusaha memanjat lebih tinggi lagi. Tapi dia malah tergelicir. Dia merosot cukup jauh ke bawah. Kalau saja dia tidak mendapat pegangan, dia akan jatuh tepat di depan serigala itu dan tamatlah dia. Tapi dia masih selamat kembali memanjat kembali. Dia masih di luar jangkauan serigala itu. Melihat itu aku berteriak lebih keras meminta tolong. Aku panik. Aku berteriak begitu keras sampai-sampai aku merasa tenggorokanku sakit.

Saat itulah penyelamat datang. Bukan Ayahku atau warga lain yang datang menyelamatkan kami, tapi Bleki. Ya, Bleki. Dia datang dan menyerang serigala tersebut. Mereka berkelahi begitu sengit. Aku tidak tahu siapa yang bakal menjadi pemenangnya. Pertarungan mereka semakin membuat mereka menjauhi kami. Sampai akhirnya mereka hilang dari pandangan. Aku tertegun.

Apa yang menyebabkan Bleki bisa berada di sini? Apa ayah mendengar teriakan kami dan mengejar kami tapi Bleki mendahului mereka sampai disini? Apa Bleki yang mendengar teriakan kami dan langsung datag kemari? Kalaupun dia mendengar kami dari mana dia mendapat keberanian untuk meyerang serigala itu? Aku benar-benar bingung.

Setelah cukup lama dan kami merasa aman, kami turun. Kami langsung berlari pulang menuju rumah.

Sesampai di rumah aku langsung berteriak memanggil siapapun yang ada di rumah. Kebetulan Ayah sedang di rumah. Aku langsung nangis dan memeluknya. Dia bingung. Aku tidak mengatakan apa-apa. “Bleki..Bleki.,” hanya itu yang kukatakan sambil sesenggukan. Ayah mengelus-mengelus kepalaku untuk menenangkan. Ketika aku sudah cukup tenang aku ceritakan semuanya kepada Ayah.

Setelah selesai bercerita, aku melihat raut wajahnya berubah menjadi keras. Dia langsung memanggil tetangga dan pergi ke hutan untuk melihat keadaan Bleki. Jika beruntung mereka dapat bertemu dan membunuh serigala tersebut.

Satu jam kemudian mereka kembali dan menemukan Bleki telah mati dan mereka membawa mayat Bleki untuk di kubur. Aku tidak bisa memikirkan apapun saat itu. Ketika itu tiba-tiba saja air mata langsung mengalir deras dan membuat pandanganku buram. Air mata tulus untuk Bleki.

Semalaman aku terus menangis setelah Bleki dikuburkan. Aku benar-benar merasa bersalah kepadanya. Dia telah menyelamatkan aku, orang yang begitu membencinya.

Aku benar-benar menyesal.

 

© Copyright gelora mimpi . All Rights Reserved.

Designed by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine

Blogger Template created by Deluxe Templates